Dalam keheningan malam, aku sering duduk di tepi jendela, merasakan beban yang tak kasat mata di punggungku. Dulu aku yakin punya sayap. Impian-impian itu begitu jelas — terbang tinggi, melihat dunia dari atas, menyentuh awan yang dulu hanya menjadi latar dalam doa malam. Tapi sayap itu tak pernah bisa dikembangkan. Bukan karena aku tak mau melatihnya, melainkan karena tubuh ini terlalu lemah untuk menahan hembusan angin. Setiap kali mencoba menggerakkannya, dada terasa sesak, tenaga habis sebelum kaki bahkan meninggalkan tanah. Kondisi yang keras, situasi yang tak mendukung, semuanya datang seperti kabut tebal yang menyembunyikan arah terbang. Aku tak marah. Hanya sedih. Sedih yang dalam dan sunyi. Sedih karena punya mimpi, tapi tak punya cukup kekuatan untuk mengejarnya. Setiap hari terasa seperti berjalan di jalan yang menanjak dengan kaki yang gemetar. Mental ini kadang begitu rapuh, seperti kaca yang retak sedikit saja goncangan takut akan membuatnya hancur. Fisik ini pun sering m...
Ada satu waktu di masa lalu ketika lembar-lembar diriku ditenun dengan benang-benang terbaik. Orang-orang melihat polanya yang rapi, warnanya yang memikat, lalu meramalkan bahwa kelak aku akan menjadi jubah yang dipamerkan di tempat tertinggi. Aku tumbuh dengan keyakinan itu—bahwa aku berharga, bahwa aku menjanjikan. Namun, dunia luar ternyata bukan sebuah ruang pameran yang hangat. Dunia yang kuhadapi adalah padang terbuka yang berangin kencang, penuh dengan batu-batu tajam dan tuntutan yang kasar. Di sinilah ironi itu dimulai. Di usia yang kini telah menyentuh kepala tiga, aku semakin menyadari bahwa aku adalah selembar sutra yang dilemparkan ke tengah badai, lalu disalahkan karena tidak mampu menahan laju angin. Di sekelilingku, mendung kehidupan menuntut setiap orang untuk menjadi terpal yang tebal atau baja yang kokoh. Mereka adalah definisi "normal" yang disepakati oleh dunia. Sementara aku? Jalinan seratku terlampau lembut. Langkahku meliuk dalam ritme yang berbeda, me...